3 Pelajaran Penting dari Masa Kritis Ibu Kami [Refleksi untuk Penguatan Keluarga dan Pengembangan Bisnis]

Ikatan keluarga adalah modal besar untuk menghadapi setiap masalah. Dan juga, modal besar dalam membangun bisnis keluarga. Ini adalah kisah kami merawat ibu di saat paling kritis, yang kemudian mengokohkan ikatan keluarga dan yang paling menginspirasi dalam pengembangan bisnis kami.

 

Vonis di malam itu

Malam jam 7.30, saya baru saja selesai sholat Isya di Mushola. Segera saya merapikan diri, membeli beberapa makan kecil di kantin sebelah musholla itu. Saat saya bersiap meninggalkan warung itu, saya melihat adik saya, Rina, sedang berjalan dari arah sebaliknya.

Adik saya terlihat sedih dan lesu. Sesekali dia mengusap matanya dengan tisu yang dipegangnya. Suami adik saya, Anang berbicara pelan sambil merangkul bahunya. Saya segera menyadari kalau akan ada berita yang tidak enak.

“Ibu, mas…” kata Rina terbata. Dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia menangis tertahan dengan kesedihan dan kecemasan yang sangat mendalam.

“Kenapa?” tanya saya dengan cemas, bahkan lebih cemas dari adik saya yang menangis itu. Adik saya tidak menjawab. Dia hanya menangis dan merebahkan dirinya ke pelukan suaminya.

“Bagaimana Ibu? Apakah hasil diagnosanya sudah keluar?” tanya saya kepada mereka. Entah kepada Rina atau Anang saya bertanya. Keduanya terlihat sama-sama sedih dan cemasnya.

Rina mencoba menenangkan diri, dan mencari tempat duduk yang paling dekat di depan kantin Rumah Sakit itu.

“Itu mas…kata pak Dokter, Waldenstrom Macroglobulinemia.”
“Apa itu…?” kata saya.

Saya tidak lagi mendengar dan mengerti penjelasan adik saya dan suaminya tentang penyakit itu. Kakak saya, Ratna ikut bergabung kemudian. Kami berempat duduk lesu di depan kantin yang sepi itu.

Angin malam sesekali berhembus mengenai kami. Udara Surabaya yang panas itu terasa dingin. Setiap dia berhembus terasa ngilu di ulu hati saya.

Saya mencari nama penyakit itu lewat google. Saya menemukan informasi yang lebih membuat hati lebih ngilu lagi. Informasi di berbagai situs tentang penyakit memberi gambaran yang lebih seram dibanding penjelasan dokter lewat adik saya.

Waldenstrom Macroglobulinemia adalah suatu kelainan dimana sel plasma menghasilkan sejumlah besar makroglobulin (antibodi yang besar) yang tertimbun di dalam darah.

Penderita lainnya memiliki darah yang mengental (sindroma hiperviskositas) karena banyaknya jumlah makroglobulin, disertai berkurangnya aliran darah ke kulit, jari tangan, jari kaki dan hidung.

Semua gejalanya telah kami lihat dari keluhan ibu kami. Sering ada memar di kulit dan perdarahan dari lapisan mulut ibu. Kelelahannya yang tak kunjung hilang. Serta lemahnya ibu untuk berjalan, bahkan untuk bangun dari tidur.

Waldenstrom Macroglobulinemia adalah kata yang tidak pernah saya dengar. Apalagi memikirkannya bisa menyerang ibu saya.

Hanya ada 3 dari 1 juta orang yang akan terkena penyakit ini. Dan Allah menakdirkan penyakit itu mengenai ibu kami.

 

Perjuangan dan Kami

Malam itu juga, kami semua anak dan menantu ibu, berembug membicarakan apa yang harus kami lakukan. Air mata terus menerus mengalir bergantian di antara kami. Kaki saya terasa dingin, dan perut saya terus menerus mulas setiap mengingat nama penyakit itu. Rasa cinta kami kepada ibu dan kekhawatiran kami terus bergelut mencari solusi bagaimana agar ibu mendapat perawatan terbaik.

Kami semua memutuskan, akan memberikan ibu perawatan terbaik di rumah sakit terbaik di Surabaya. Kami mendengar banyak pasien dengan penyakit yang aneh-aneh bisa disembuhkan di sana. Harapan dan doa kami pun demikian.

Perjuangan kami, saya, adik, dan kakak saya, para menantu, cucu, dalam menjaga ibu, mencarikan obat, mendampingi setiap tindakan medis dilakukan. Semoga itu semua menjadi bakti kami yang paling indah untuk ibu.

Ibu kembali sehat setelah mendapatkan perawatan hampir dua bulan. Kami semua sangat bahagia. Walaupun kondisinya tidak pulih sepenuhnya.

Ibu Kembali Sehat Setelah Perawatan Pertama

 

Setelah beliau sehat, banyak waktunya dia gunakan untuk bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan teman-temannya. Bahkan, beberapa kali beliau mengikuti kegiatan wisata bersama anggota pengajian di desa kami.

Semua terasa begitu cepat berlalu. Kesehatan beliau kembali menurun. Dan akhirnya kami harus membawa ibu kembali ke rumah sakit untuk dirawat.

Dan pada kali kedua ini, serang penyakit ibu lebih berat dari sebelumnya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, kami sepakat memberikan ijin dokter melakukan tindakan yang terbaik untuk beliau.

Hari-hari terasa lambat berjalan. Dua minggu sudah ibu kami di rumah sakit, Kami para anak, menantu, dan cucu-cucu bergantian menemani beliau di rumah sakit.
Malam itu kami berbincang bermusyawarah untuk membahas biaya pengobatan ibu, Saat itu juga kami segera menyadari bahwa semua tabungan kami, tidak berarti apa-apa menghadapi satu ujian dari Tuhan ini.

Biaya kamar membutuhkan biaya Rp 1 juta per harinya. Itu belum termasuk biaya obat-obatan atau biaya tambahan lain kalau ada tindakan khusus. Biaya rumah sakit seminggu nya bisa menghabiskan dana ratusan juta.

Memasuki minggu ke 3 kami harus sudah mulai mencari dana talangan sementara untuk memenuhi biaya pengobatan itu. Tabungan kami tidak lagi cukup untuk biaya pengobatan.

Semua menjadi terasa sangat berat untuk kami. Saya bekerja sebagai GM di sebuah perusahaan besar, adik saya dan suaminya bekerja sebagai pegawai negeri di Departemen Keuangan, dan kakak saya berwiraswasta.

Kami termasuk keluarga yang berkecukupan di lingkungan kampung dan keluarga kami. Tapi hari itu, kami tidak berdaya.

Allah telah menetapkan takdirnya bagi ibu dan kami, jauh sebelum ini semua. Ibu berjuang untuk sembuh, kami pun berjuang sekuat kemampuan kami merawatnya.

Allah menggariskan hal lain. Ibu wafat pada hari senin pagi dengan tenang. Kami semua sangat sedih, namun tidak ada kata sesal karena semua usaha telah maksimal kami lakukan.

Semoga Allah memberikan rahmat dan ampunan kepada ibu kami. Semoga Allah juga mencatat semua usaha kami sebagai pahala kebajikan dari bakti kepada ibu.

 

3 Pelajaran Penting

Kami sekeluarga banyak berdiskusi dan berembug setelah wafatnya ibu. Dia memang selalu mendorong dan membuat kami hidup rukun. Apapun masalah yang kami hadapi, ibu selalu menyuruh kami membahasnya bersama.

 

Itulah yang kami teruskan setelah wafatnya ibu. Dalam satu bincang kita, ada 3 pelajaran yang saya catat dalam hati.

Pertama, kekayaan kita tidak lah berarti apa-apa di hadapan kekuasaan Tuhan. Saat Dia memutuskan sesuatu tidak ada harta, kekuatan, dan usaha apapun yang sanggup menahannya.

Namun bukan berarti kita tidak memerlukannya. Justru saat almarhum ibu kami sedang sakit, kami dapat menunjukkan bakti kami dengan memaksimalkan pengobatan untuknya. Dan itu tidaklah murah. Seandainya kami memiliki tabungan dan penghasilan yang lebih besar, tentu masih lebih banyak dapat kami lakukan.

Yang terpenting lagi kami tidak menyusahkan keluarga kami yang lainnya. Kami tidak perlu berhutang atau meminta bantuan uang kepada sanak dan kerabat ibu lainnya.

Kedua, kekompakan keluarga menjadi modal yang sangat penting dalam menghadapi ujian. Kami semua anak dan menantu ibu berjuang bersama untuk menunjukkan bakti kami di saat-saat terakhir beliau. Tenaga, pikiran, dan harta menjadi lebih berdaya guna bila semua keluarga bersatu.

Itu juga yang kami teruskan hingga saat ini dalam membangun bisnis keluarga. Memupuk kekuatan keluarga sangat penting dalam menghadapi masa-masa sulit nanti.

Ketiga, kita tidak dapat menggantungkan diri pada gaji dari pekerjaan saja. Setinggi apapun jabatan dan sberapa besarpun gaji kita tidak akan cukup memenuhi semua kewajiban kita. Baik sebagai anak, orang tua, dan anggota keluarga.

Gaji dan fasilitas apapun dari kantor atau pekerjaan kita telah dihitung sesuai dengan standar. Dan perhitungan itu hanya cukup untuk kita dan keluarga inti kita, istri/suammi, dan anak-anak kita.

Saya, istri, dan anak-anak saya telah ditanggung asuransi kantor bila harus menjalani perawatan medis. Tapi tidak dengan ibu saya. Atau keponakan saya. Mereka tidak ditanggun asuransi.

Apakah kita tega membiarkan mereka sakit tanpa perawatan terbaik yang bisa kita bantu?

Kalau kita tidak punya sumber penghasilan selain gaji, maka kita tidak akan mampu memberikan bantuan pada mereka saat dibutuhkan.

 

Membangun Bisnis Bersama Keluarga

Itu salah satu hasil kesepakatan kami setelah melewati krisis yang menimpa keluarga kami. Alhamdulillah, ibu kami meninggalkan 3 warisan yang paling berharga untuk kami anak-anak, menantu, dan cucunya.

Warisan pertama adalah suatu ikatan keluarga yang kuat. Warisan kedua adalah semangat berwiraswasta. Dan yang ketiga adalah, resep makanan super enak rahasia keluarga.

Ketiga warisan ini yang saat ini terus kami kembangkan menjadi bisnis keluarga. Bahkan setelah beliau kembali kepada sang Khaliq, ibu tetap bersama kami, di hati kami, maupun disetiap aliran bisnis kami.

Apa pendapat Anda, silahkan berikan komen di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *